TUGAS KMB
TENTANG
BRONCHITIS, ASMA BRONCHIAL
DAN EMBOLI
PARU
OLEH :
1.
ACHMAD TEGUH HIDAYAT
2.
NILA ANGGRAINI
3.
RUT APRILIA KARTINI
4.
SYAHRIL MUSTHOFA
KAMPUS
TERPADU SAKINAH
2013/2014
Puji syukur
kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmatnya sehingga
makalah ini dapat tersusun. Salawat serta salam senantiasa tercurahkan selalu
kepada junjungan nabi besar muhammad SAW, karena beliau yang telah membawa
manusia dari zaman kebodohan menuju zaman yang modern yang penuh dengan ilmu
pengetahuan. Terima kasih saya ucapkan kepada dosen pembimbing mata kuliah ,
mudah-mudahan ilmu yang beliau berikan kepada saya khususnya dan kepada kami
semua bermanfaat. Penyusunan makalah ini diajukan sebagai salah satu tugas pada
mata kuliah KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH. Demikian penyususnan makalah ini semoga
bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya pada pembaca.
Pasuruan, 14
Oktober 2013
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sistem
pernapasan merupakan salah satu dari sistem organ yang ada dalam tubuh manusia.
Dalam sistem pernapasan ini tersusun oleh beberapa organ yang bekerja. Salah
satunya adalah Bronkhi ( Bronchus ).
B.
Tujuan
1) Tujuan Umum
Dengan
penyusunan makalah ini diharapkan agar mahasiswa/i Akademi Keperawatan Sakinah
mampu memahami, mengerti tentang Laporan Pendahuluan Bronchitis.
2) Tujuan Khusus
Dengan
penyusunan makalah ini, diharapkan agar mahasiswa/i Akademi Keperawatan Sakinah
mampu menjelaskan, menerapkan, dan mengaplikasikan tentang :
a. Penjelasan atau konsep dasar Bronchitis.
b. Konsep penatalaksanaan medis pada klien
yang menderita Bronchitis.
BAB II
LAPORAN PENDAHULUAN
BRONCHITIS
A.
Pengertian
Bronchitis
adalah peradangan dari satu atau lebih bronchus (Kamus Kedokteran Dorland,
Edisi 25).
Bronchitis
adalah radang cabang-cabang tenggorokan.
Bronchitis
adalah suatu penyakit yang ditandai oleh adanya inflamasi bronchus (Perawatan
Anak Sakit, Ngastiyah, hal. 55)
B.
Klasifikasi
1) Bronchitis
akut merupakan suatu perandangan dari bronchiole, bronchus, dan trakea oleh
berbagai sebab dan mendadak atau tiba-tiba berlangsung sementara.
2) Bronchitis
kronis merupakan suatu sindrom dimana terdapat batuk kronis produktif selama
paling sedikit 3 bulan dalam 1 tahun dan terjadi berulang kali dalam jangka 2
tahun.
C.
Etiologi
§ Penghirupan
zat iritan fisik atau kimia infeksi bakteri.
§ Asap
mengiritasi jalan nafas yang dapat mengakibatkan hypersekresi lendir dan
inflamasi
§ Penyumbatan
dan penyempitan bronchiolus.
§ Malnutrisi.
§ Kelelahan.
§ Rokok
§ Polusi
D.
Patofisiologi
Penemuan
patologis dari bronchitis adalah hipertropi dari kelenjar mukosa bronchus dan
peningkatan sejumlah sel goblet disertai dengan infiltrasi sel radang dan ini
mengakibatkan gejala khas yaitu batuk produktif. Batuk kronik yang disertai
peningkatan sekresi bronkus tampaknya mempengaruhi bronchiolus yang kecil-kecil
sedemikian rupa sampai bronchiolus tersebut rusak dan dindingnya melebar.
Faktor
etiologi utama adalah merokok dan polusi udara lain yang biasa terdapat pada
daerah industri. Polusi tersebut dapat memperlambat aktifitas silia dan
pagositosis, sehingga timbunan mukus meningkat sedangkan mekanisme
pertahanannya sendiri melemah. Mukus yang berlebihan terjadi akibat displasia.
Sel-sel penghasil mukus di bronkhus. Selain itu, silia yang melapisi bronkus
mengalami kelumpuhan atau disfungsional serta metaplasia.
Perubahan-perubahan
pada sel-sel penghasil mukus dan sel-sel silia ini mengganggu sistem eskalator
mukosiliaris dan menyebabkan penumpukan mukus dalam jumlah besar yang sulit
dikeluarkan dari saluran nafas.
Infeksi
viral
Polutan
Kedinginan
Lelah
Malnutrisi
ò
Hyperemi
membran mukosa
ò
Desquamasi
mukosa
ò
Udema pada
dinding bronchus
ò
Infiltrasi
leukosit dari sub mukosa bronchus
ò
Produksi
eksudat mucopurelent
ò
Gangguan
limfe
ò
Bakteri
masuk ke bronchioli yang steril
ò
Obstruksi
jalan nafas
ò
Udema
dinding bronchioli
÷
ø
Rerensi
sekrat
Spasme musculus
ò
Bronchioli
Bersihan jalan
ò
nafas tidak efektif
Gangguan pertukaran gas, intoleransi aktivitas
- Pemeriksaan Penunjang
1.
Pemeriksaan
radiologis Tubular shadow atau traun lines terlihat bayangan garis yang
paralel, keluar dari hilus menuju apeks paru. bayangan tersebut adalah bayangan
bronchus yang menebal.Corak paru bertambah
2.
Pemeriksaan
fungsi paru
3.
Analisa gas darah antara lain :
a.
Pa O2 :
rendah (normal 25 – 100 mmHg)
b.
Pa CO2 :
tinggi (normal 36 – 44 mmHg).
c.
Saturasi
hemoglobin menurun.
d.
Eritropoesis
bertambah.
- Penatalaksanaan dan Pengobatan
1.
Tindakan
suportif
2.
Pendidikan
bagi pasien dan keluarganya tentang :
a.
Menghindari
merokok
b.
Menghindari
iritan lainnya yang dapat terhirup.
c.
Mengontrol
suhu dan kelembaban lingkungan.
d.
Nutrisi yang
baik.
e. Hidrasi yang adekuat.
3.
Terapi
khusus (pengobatan) :
a. Bronchodilator
b.
Antimikroba
c. Kortikosteroid
d. Terapi pernafasan
e. Terapi aerosol
f. Terapi oksigen
g. Penyesuaian fisik
h. Latihan relaksasi
- Tanda dan Gejala
1.
Batuk mulai pagi hari, timbul siang hari maupun
malam hari,
2.
Dahak, sputum putih/mukoid. Bila ada infeksi, sputum
menjadi purulen atau mukopurulen
3.
Sesak bila timbul infeksi, sesak napas akan bertambah,
4.
Kadang-kadang terdengar ronchi pada waktu ekspirasi
dalam. Bila sudah ada keluhan sesak, akan terdengar ronchi pada waktu ekspirasi
maupun inspirasi
DAFTAR PUSTAKA
http://satyaexcel.blogspot.com/2012/10/makalah-penyakit-bronkitis.html
Diakses pada tanggal 14/10/2013 Pukul 12.00 WIB
http://duniavirly.blogspot.com/2012/02/laporan-pendahuluan-bronkitis.html
Diakses pada tanggal 14/10/2013 Pukul 12.00 WIB
LAPORAN PENDAHULUAN
PADA ASMA BRONCHIAL
1. Pengertian
Asma bronchial adalah penyakit jalan nafas
obstruktif intermiten, reversibel dimana trakea dan bronkhi berespon secara
hiperaktif terhadap stimulasi tertentu. (Smelzer Suzanne : 2001)
Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri
meningkatnya respon bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi
adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik
secara spontan maupun hasil dari pengobatan (The American Thoracic Society).
Asma bronchial adalah suatu penyakit pernapasan
dimana terjadi penigkatan respon saluran pernapasan yang menimbulkan reaksi
obstruksi pernapasan akibat spasme otot polos bronkus. (Sjaifoellah, 2001: 21)
Asma bronchial adalah penyakit pernafasan
objektif yang ditandai oleh spasme akut otot polos bronkus. Hal ini menyebabkan
obstruksi aliran udara dan penurunan ventilasi alveolus. (Elizabeth, 2000: 430)
Asma bronchial adalah suatu gangguan yang komplek
dari bronkial yang dikarakteristikan oleh periode bronkospasme (kontraksi
spasme yang lama pada jalan nafas). (Polaski : 1996).
Asma adalah gangguan pada jalan nafas bronkial
yang dikateristikan dengan bronkospasme yang reversibel. (Joyce M. Black:
1996).
Dari berbagai deinisi diatas dapat disimpulkan
bahwa asma bronchial adalah suatu penyakit gangguan jalan nafas obstruktif yang
bersifat reversible, ditandai dengan terjadinya penyempitan bronkus, reaksi
obstruksi akibat spasme otot polos bronkus, obstruksi aliran udara, dan
penurunan ventilasi alveoulus dengan suatu keadaan hiperaktivitas bronkus yang
khas.
- Etiologi
a.
Faktor
Ekstrinsik (asma imunologik / asma alergi)
§ Reaksi antigen-antibodi
§ Inhalasi alergen (debu,
serbuk-serbuk, bulu-bulu binatang)
- Faktor Intrinsik (asma non imunologi / asma non
alergi)
§ Infeksi : parainfluenza virus,
pneumonia, mycoplasmal
§ Fisik : cuaca dingin, perubahan
temperatur
§ Iritan : kimia
§ Polusi udara : CO, asap rokok,
parfum
§ Emosional : takut, cemas dan tegang
§ Aktivitas yang berlebihan juga dapat
menjadi faktor pencetus.
(Suriadi,
2001 : 7)
- Klasifikasi
Secara etiologis asma bronkial dibagi dalam 3 tipe:
1) Asma bronkial
tipe non atopi (intrinsik)
Pada golongan ini, keluhan tidak ada hubungannya
dengan paparan (exposure) terhadap alergen dan sifat-sifatnya adalah: serangan
timbul setelah dewasa, pada keluarga tidak ada yang menderita asma, penyakit
infeksi sering menimbulkan serangan, ada hubungan dengan pekerjaan atau beban
fisik, rangsangan psikis mempunyai peran untuk menimbulkan serangan reaksi
asma, perubahan-perubahan cuaca atau lingkungan yang non spesifik merupakan
keadaan peka bagi penderita.
2) Asma
bronkial tipe atopi (Ekstrinsik).
Pada golongan ini, keluhan ada hubungannya dengan
paparan terhadap alergen lingkungan yang spesifik. Kepekaan ini biasanya dapat
ditimbulkan dengan uji kulit atau provokasi bronkial.
Pada tipe ini mempunyai sifat-sifat: timbul sejak
kanak-kanak, pada famili ada yang menderita asma, adanya eksim pada waktu bayi,
sering menderita rinitis.
3) Asma
bronkial campuran (Mixed)
Pada golongan ini, keluhan diperberat baik oleh
faktor-faktor intrinsik maupun ekstrinsik.
- Tanda dan Gejala
I.
Stadium dini
Faktor hipersekresi yang lebih menonjol :
a.
Batuk dengan dahak bisa dengan maupun tanpa pilek
b.
Rochi basah halus pada serangan kedua atau ketiga,
sifatnya hilang timbul
c.
Whezing belum ada
d.
Belum ada kelainan bentuk thorak
e.
Ada peningkatan eosinofil darah dan IG E
f.
BGA belum patologis
Faktor spasme bronchiolus dan edema yang lebih dominan :
- Timbul sesak napas dengan atau
tanpa sputum
- Whezing
- Ronchi basah bila terdapat
hipersekresi
- Penurunan tekanan parsial O2
II.
Stadium lanjut/kronik
a)
Batuk, ronchi
b)
Sesak nafas berat dan dada seolah-olah tertekan
c)
Dahak lengket dan sulit untuk dikeluarkan
d)
Suara nafas melemah bahkan tak terdengar (silent
Chest)
e)
Thorak seperti barel chest
f)
Tampak tarikan otot sternokleidomastoideus
g)
Sianosis
h)
BGA Pa O2 kurang dari 80%
i)
Ro paru terdapat peningkatan gambaran bronchovaskuler
kanan dan kiri
j)
Hipokapnea dan alkalosis bahkan asidosis respiratorik
(Halim Danukusumo, 2000, hal 218-229)
- Patofisiologi
Asthma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot
polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah
hipersensitivitas bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang
timbul pada asthma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut :
seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody
Ig E abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi
bila reaksi dengan antigen spesifikasinya. Pada asma, antibody ini terutama
melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan
erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila seseorang menghirup alergen
maka antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan antibodi
yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan
berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat
(yang merupakan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin.
Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini akan menghasilkan adema lokal pada
dinding bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen
bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan
saluran napas menjadi sangat meningkat.
Pada asthma, diameter bronkiolus lebih berkurang
selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam
paru selama eksirasi paksa menekan bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus
sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan
eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada
penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat,
tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas
residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama
serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi dari paru. Hal ini
bisa menyebabkan barrel chest.

- Pemeriksaan penunjang
- Pengukuran
fungsi paru (spirometri)
Pengukuran ini dilakukan sebelum dan
sesudah pemberian brokodilator aerosol golongan adrenergi. Peningkatan FEV atau
FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma.
- Tes
provokasi bronkus
Tes ini dilakukan pada spirometri
internal. Penurunan FEV sebesar 20% atau lebih setelah tes provokasi dan denyut
jantung 80-90% dari maksimum dianggap bermakna bila menimbulkan penurunan PEVR
10% atau lebih.
- Pemeriksaan
kulit
Untuk menunjukkan adanya antibodi
IgE hipersensitif yang spesifik dalam tubuh.
- Pemeriksaan
laboraturium
§ Analisa Gas
Darah (AGD / Astrup) => Hanya dilakukan pada serangan asma berat karena
terdapat hipoksemia, hiperkapnea, dan asidosis respiratorik
§ Sputum =>
Adanya badan kreola adalah karakteristik untuk serangan asma yang berat karena
hanya reaksi yang hebat saja yang menyebabkan transudasi dari edema mukosa,
sehingga terlepaslah sekelompok sel-sel epitel dari perlekatannya. Pewarnaan
gram penting untuk adanya bakteri, cara tersebut kemudian kemudian diikuti
kultur dan uji resistensi terhadap beberapa antibiotik.
§ Sel
oesinofil => Perbaikan fungsi paru disertai penurunan hitung jenis sel
eosinofil menunjukkan pengobatan telah tepat.
§ Pemeriksaan
darah rutin dan kimia => SGOT dan SGPT meningkat disebabkan kerusakan hati
akibat hipoksia atau hiperkapnea.
- Pemeriksaan
radiologi
Hasil pemeriksaan radiologi pada
klien dengan asma bronkhial biasanya normal, tetapi prosedur ini harus dilakukan
untuk menyingkirkan adanya proses patologi di paru atau komplikasi asma seperti
pneumothoraks, pneumomediastinum dan atelektasis.
- Penatalaksanaan
a) Diagnosis
status asmatikus. Faktor penting yang harus diperhatikan :
§ Saatnya
serangan
§ Obat-obatan
yang telah diberikan (macam dan dosis)
b) Pemberian
obat bronkodilator
c) Penilaian
terhadap perbaikan serangan
d) Pertimbangan
terhadap pemberian kortikosteroid
e) Penatalaksaan
setelah serangan mereda
§ Cari faktor
penyebab
§ Modifikasi
pengobatan penunjang selanjutnya
DAFTAR PUSTAKA
http://hazlynpotc.blogspot.com/2012/09/laporan-pendahuluan-dan-asuhan.html
Diakses pada tanggal 14/10/2013 pukul 13.00 WIB
http://blogpathways.blogspot.com/2012/08/lp-asma-bronkial.html
Diakses pada tanggal 14/10/2013 pukul 13.00 WIB
http://kmbceptrischa.blogspot.com/2011/10/lp-dan-askep-asma-bronhiale.html
Diakses pasa tanggal 14/10/2013 WIB
http://anengkuyzakp14.blogspot.com/2011/10/laporan-pendahuluan-asma-bronkhial-dan.html
Diakses pada tanggal 14/10/2013 pukul 13.00 WIB
LAPORAN PENDAHULUAN
PADA EMBOLI PARU
A. Pengertian
Emboli
Paru (Pulmonary Embolism)adalah penyumbatan arteri pulmonalis (arteri
paru-paru) oleh suatu embolus, yang terjadi secara tiba-tiba. Suatu emboli bisa
merupakan gumpalan darah (trombus), tetapi bisa juga berupa lemak, cairan
ketuban, sumsum tulang, pecahan tumor atau gelembung udara, yang akan mengikuti
aliran darah sampai akhirnya menyumbat pembuluh darah.
Emboli
paru adalah obstruksi salah satu atau lebih arteri pulmonalis oleh trombus yang
berasal dari suatu tempat. (brunner dan suddarth, 1996, 620)
B. Etiologi
Kebanyakan
kasus emboli paru brunner dan suddarth (1996, 620) disebabkan oleh :
1. bekuan darah
2. gelembung udara
3. lemak
4. gumpalan parasit
5. sel tumor
C. Tanda dan Gejala
Tanda
umum adalah:
a) dyspnoea
– tiba-tiba dan ada pada 90% kasus
b) nyeri
dada pleuritik
c) haemoptisis
d) pingsan
e) tachikardia
> 100/menit
f) tachipnoe
> 20/menit
g) demam
Tanda
Klinis :
a. Gejala DVT dengan tanda bengkak pada kaki
dan nyeri pada perabaan vena
b. Denyut jantung > 100 per menit
c. Bedrest > 3 hari atau pembedahan dalam 4
minggu yang lalu
d. Sebelumya menderita DVT atau PE
e. Haemoptisis
f. PE ditemukan pada pemeriksaan poto thorak
dan EKG
Gejala :
§
batuk (timbul secara mendadak, bisa disertai
dengan dahak berdarah)
§
sesak nafas yang timbul secara mendadak, baik
ketika istirahat maupun ketika sedang melakukan aktivitas
§
nyeri dada (dirasakan dibawah tulang dada atau
pada salah satu sisi dada, sifatnya tajam atau menusuk)
§
nyeri semakin memburuk jika penderita menarik
nafas dalam, batuk, makan atau membungkuk
§
pernafasan cepat
§
denyut jantung cepat (takikardia).
Gejala lainnya yang mungkin ditemukan:
-Shock
- wheezing/bengek
- kulit lembab
- kulit berwarna kebiruan
- nyeri pinggul
- nyeri tungkai (salah satu atau keduanya)
- pembengkakan tungkai
- tekanan darah rendah
- denyut nadi lemah atau tak teraba
- pusing
- pingsan
- berkeringat
- cemas
- wheezing/bengek
- kulit lembab
- kulit berwarna kebiruan
- nyeri pinggul
- nyeri tungkai (salah satu atau keduanya)
- pembengkakan tungkai
- tekanan darah rendah
- denyut nadi lemah atau tak teraba
- pusing
- pingsan
- berkeringat
- cemas
D.
Patifisiologi
Ketika
trombus menyumbat sebagian atau seluruh arteri pulmonal, ruang rugi alveolar
membesar karena area, meski terus mendapat ventilasi, menerima aliran darah
sedikit maupun tidak sama sekali. Selain itu sejumlah subtansi yang dilepaskan
dari bekuan dan menyebabkan pembuluh darah bronkhiolus berkonstriksi. Reaksi
ini diseimbangi ketidak seimbangan ventilasi perfusi, menyebabkan darah
terpirau dan mengakibatkan penurunan kadar O2 dan peningkatan CO2. (brunner dan
suddarth,2001.621)
Konsekuensi
himidinamik adalah peningkatan tahanan vascular paru akibat penurunan ukuran
jarring-jaring vascular pulmonal., menyebabkan peningkatan tekanan arteri
pulmonal dan akhirnya mningkatkan kerja ventrikel kanan untuk mempertahankan
aliran darah pulmonal. Bila kebutuhan ventrikel kanan melebihi kapasitasnya,
maka akan terjadi gagal ventrikl kanan yang mengarah pada penurunan tekanan
darah sistemik dan terjadinya syok. (brunner dan suddarth,2001.621)
Embolus
berjalan ke paru-paru dan diam di pembuluh darah paru-paru. Ukuran dan jumlah
emboli ditentukan oleh lokasi. Aliran darah terobstruksi sehingga menyebabkan
penurunan perfusi dari bagian paru-paru yang disuplai oleh pembuluh darah.
Akibat
buruk yang paling awal terjadi tromboemboli adalah obstruksi komplit atau
parsial aliran darah arteri pulmonalis bagian distal. Obstruksi ini akan
mengakibatkan serangkaian kejadian patofisiologik yang dapat dikelompokkan
sebagai “Pernapasan” dan “Hemodinamik” sebagai akibat trombo emboli paru-paru
(TEP).
1.
Konsekuensi Pernapasan
Obstruksi
akibat emboli adalah menyebabkan daerah paru-paru yang berventilasi tidak mampu
melakukan perfusi “anatomical dead space” intra pulmonalis karena dead space tidak
terjadi pertukaran gas, ventrikel daerah yang nonperfusi ini sia-sia dalam arti
fungsional. Konsekuensi potensial yang ditimbulkan obstruksi emboli ini adalah
konstruksi ruang udara dan jalan napas pada daerah paru-paru yang terlibat.
Pneumokonstriksi ini dapat dilakukan sebagai mekanisme homeostasis untuk
mengurangi ventilasi yang terbuang, kelihatannya disebabkan oleh hipokapnia
bronkoalveolar yang merupakan hasil penghentian aliran darah kapiler paru-paru
karena aliran tersebut dihilangkan oleh inhalasi udara yang kaya dengan
karbondioksida.
Gangguan
lain akibat obstruksi emboli adalah hilangnya surfaktan alveolar, namun hal
tersebut tidak terjadi dengan cepat. Hipoksima arteri bisa dijumpai, walaupun
sama sekali bukan merupakan akibat dari tromboemboli paru-paru.
2.
Konsekuensi Hemodinamik
Konsekuensi
hemodinamik utama yang diakibatkan oleh obstruksi tromboembolik adalah reduksi
daerah potongan melintang dari jaringan arteri pulmonalis. Hilangnya kapasitas
vaskuler ini meningkatkan resistensi aliran darah paru-paru yang bisa bermakna
akan berkembang menjadi hipertensi paru-paru dan gagal ventrikel kanan akut.
Takikardia dan kadang penurunan curah jantung juga dapat terjadi.
Thrombus/emboli
↓
Penyumbatan
aliran darah
Penurunan aliran darah
ke paru-paru Penurunan
aliran darah ke jantung
↓ ↓
←Kadar O2 jaringan paru2 menurun Oksigen ke jaringan menurun
↓ ↓
Hipoksia jaringan paru-paru Hipoksia jaringan
tubuh
↓
Gangguan
pertukaran gas,kerusakan
|
↓ ↓
Infark
jaringan paru2 tempat emboli paru Gangguan
↓ pertukaran
gas,kerusakan
Nyeri dada
|
↓ ↓
sianosis
penurunan oksigen
intoleransi
aktivitas
|
Sesak nafas
|
↓
→ Sesak
nafas
E. Pemeriksaan Diagnostik
- Laboratorium
a.
Pemeriksaan darah tepi: Kadang – kadang
ditemukan leukositosis dan laju endap darah yang sedikit tinggi.
b.
Kimia darah: Peningkatan kadar enzim
SGOT, LDH
c.
Analisis gas darah: Pao2 rendah
(Hipoksemia), menurunnya Pa Co2 atau dibawah 40 mmhg.
- Elektrokardiografi
Kelainan
yang ditemukan pada elektrokardiografi juga tidak spesifik untuk emboli paru,
tetapi paling tidak dapat dipakai sebagai pertanda pertama dugaan adanya emboli
paru, terlebih kalau digabungkan dengan keluhan dan gambaran klinis lainnya.
- Rontgen
Thorax
Pada
pemeriksaan foto rontgen dada pasien emboli paru, biasanya ditemui kelainan
yang sering berhubungan dengan adanya kelainan penyakit kronik paru atau
jantung pada pasien emboli paru tanda radiologi yang sering didapatkan adalah
pembesaran arteri pulmonalis desendens, peninggian diagfrakma bilateral,
pembesaran jantung kanan, densitas paru daerah terkena dan tanda westermark.
- Gas
darah arteri (GDA)menunjukkan hipoksemia (PaO2 kurang dari 80MmHg)dan
alkalosis respiratori (PaCO2 kurang dari 35MmHg dan pH lebih tinggi dari
7,45).Alkalosis respiratori dapat di sebabkan oleh hiperventilasi
- Skanning
paru-paru(skanning ventilasi dan perfusi)untuk mengetahui area yang
mengalami hipoperfusi (Engram vol.1 hal 47)
F. Komplikasi
a) Asma
Bronkhial => Asma adalah suatu gangguan pada saluran bronchial dengan ciri
bronkospasme periodic (kontraksi spasme pada saluran napas). Asma merupakan
penyakit kompleks yang dapat diakibatkan oleh faktor biokimia, endokrin,
infeksi, otonomik, dan psikologi.
b) Efusi
Pleura => Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapatnya penumpukkan
cairan dalam ronggapleura.
c) Anemia
=> Anemia adalah penurunan kuantitas atau kualitas sel – sel darah merah
dalam sirkulasi. Anemia dapat disebabkan oleh gangguan pembentukan sel darah
merah,peningkatan kehilangan sel darah merah melalui perdarahan kronik atau
mendadak, atau lisis (destruksi) sel darah merah yang berlebihan.
d) Emfisema
=> Emfisema adalah keadaan paru yang abnormal, yaitu adanya pelebaran rongga
udara pada asinus yang sipatnya permanen. Pelebaran ini disebabkan karena
adanya kerusakan dinding asinus. Asinus adalah bagian paru yang terletak di
bronkiolus terminalis distal. Ketika membicarakan emfisema, penyakit ini selalu
dikaitkan dengan kebiasaan merokok. Oleh karena itu, beberapa ahli menyamakan
antara emfisema dan bronchitis kronik.
e) Hipertensi
Pulmoner => Hipertensi pulmoner primer (HPP) adalah kelainan paru yang
jarang, dimana didapatkan peningkatan tekanan arteri polmonalis jauh diatas
normal tanpa didapatkan penyebab yang jelas. Tekanan arteri polmonal normal
pada waktu istirahat adalah lebih kurang 14 mmhg. Pada HPP tekanan arteri
polmonal akan lebih dari 25 mmhg saat istirahat, dan 30 mmhg saat aktifitas HPP
akan meningkatkan tekanan darah pada cabang – cabang arteri yang lebih kecil di
paru, sehingga meningkatkan tahanan (resistensi) vaskuler dari aliran darah di
paru. Peningkatan tahanan arteri pulmonal ini akan menimbulkan beban pada
ventrikel kanan sehingga harus bekerja lebih kuat untuk memompa darah ke paru.
G. Penatalaksanaan
Pengobatan
:
Pengobatan
emboli paru dimulai dengan pemberian oksigen dan obat pereda nyeri. Oksigen
diberikan untuk mempertahankan konsentrasi oksigen yang normal.
Terapi
antikoagulan diberikan untuk mencegah pembentukan bekuan lebih lanjut dan
memungkinkan tubuh untuk secara lebih cepat menyerap kembali bekuan yang sudah
ada.
Terapi
antikoagulan terdiri dari heparin (diberikan melalui infus i.v ) atau secara
bolus setiap 4 jam. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian warfarin per-oral.
Heparin dan warfarin diberikan bersama selama 5-7 hari, sampai pemeriksaan darah
menunjukkan adanya perbaikan. Lamanya pemberian antikoagulan tergantung dari
keadaan penderita.
Jika
emboli paru disebabkan oleh faktor predisposisi sementara, (misalnya
pembedahan), pengobatan diteruskan selama 2-3 bulan.
Jika
penyebabnya adalah masalah jangka panjang, pengobatan diteruskan selama 3-6
bulan, tapi kadang diteruskan sampai batas yang tidak tentu. Pada saat
menjalani terapi warfarin, darah harus diperiksa secara rutin untuk mengetahui
apakah perlu dilakukan penyesuaian dosis warfarin atau tidak.
Penderita
dengan resiko meninggal karena emboli paru, bisa memperoleh manfaat dari 2
jenis terapi lainnya, yaitu terapi trombolitik dan pembedahan.
Terapi
trombolitik (obat yang memecah gumpalan) bisa berupa streptokinase, urokinase
atau aktivator plasminogen jaringan.
Tetapi
obat-obatan ini tidak dapat diberikan kepada penderita yang :
a.
telah menjalani pembedahan 10 hari sebelumnya
b.
wanita hamil
c.
menderita stroke
d.
mempunyai bakat untuk mengalami perdarahan yang hebat.
Pada
emboli paru yang berat atau pada penderita yang memiliki resiko tinggi
mengalami kekambuhan, mungkin perlu dilakukan pembedahan, yaitu biasanya
dilakukan embolektomi paru (pemindahan embolus dari arteri pulmonalis).
Jika
tidak bisa diberikan terapi antikoagulan, maka dipasang penyaring pada vena
kava inferior. Alat ini dipasang pada vena sentral utama di perut, yang
dirancang untuk menghalangi bekuan yang besar agar tidak dapat masuk ke dalam
pembuluh darah paru.
DAFTAR PUSTAKA
http://mahmudatinazzura.blogspot.com/
http://zudan04.wordpress.com/2008/04/01/emboli-paru/
http://senandungputriblogg.blogspot.com/2011/06/emboli-paru.html
http://sriwarsi.blogspot.com/2012/05/laporan-pendahuluan-embolisme-paru.html
http://odasunrisenurse.blogspot.com/2011/05/embolisme-paru.html
Diakses
pada tanggal 14/10/2013 pukul 14.30 WIB
